oleh

PEREMPUAN POLITIK DAN CINTA


Warning: sizeof(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u4853462/public_html/wp-content/plugins/ad-injection/ad-injection.php on line 824

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u4853462/public_html/wp-content/plugins/ad-injection/ad-injection.php on line 831
Clickadu

Dalam berbagai hal terkadang kata perempuan selalu ditafsirkan sebagai sosok yang lemah, anggun, molek, serta kiasan estotik yang melekat pada dirinya. Kata perempuan yang terpenggal menjadi [Per] empu [an] adalah sebuah proses perilaku untuk “menjadi” yang bisa saja menjadi perempuan yang sesungguhnya dengan segala tanggung jawab yang dimilikinya sebagai pendamping suami dan pengasuh dari anak-anaknya, atau sebuah proses menuju kedewasaan dari sosok perempuan yang beranjak menjadi gadis, remaja dan menua. Itu alamiah dari proses alam (suannatullah) sebagai keharusan bagi semua manusia tak terkecuali bagi perempuan.
sumber : website
 
Dalam beberapa sejarah politik dunia, mungkin kita mengenal Margareth Teacher mantan perdana menteri Inggris yang dikenal sebagai wanita bertangan besi, Benazhir Bhuto mantan Presiden Pakistan, Isabel Peron (1974) presiden wanita pertama dalam sejarah politik modern yang berkuasa di Argentina, Ibunda Theresia yang menghabiskan waktunya untuk kemanusiaan, dan saat ini ada Hillary Clinton calon terkuat presiden USA saat itu dari Partai Demokrat.
Dan sejarah Indonesia pun menyisakan sosok pahlawan nasional seperti Raden Ajeng Kartini, Cut Meutia, Rasuna Said, mereka pun menghabiskan waktunya untuk cita-cita kemerdekaan bangsanya.
Dan panggung sejarah politik Indonesia pun ada Megawati Soekarnoputeri yang pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke 5 pasca Reformasi 1998.
Ini membuktikan kepada kita, bahwa peran perempuan tak kalah pentingnya dengan kaum laki-laki yang selalu mendapat julukan gagah, perkasa, kuat.
Itu sesungguhnya tak lebih sebagai pengakuan superioritas kaum Adam terhadap kaum Hawa yang selalu mendapat posisi sebagai kaum inferior.
Bahkan dalam fase sejarah Kenabian Muhammad SAW dalam sebuah peperangan, Husaima bin Kaab tampil membela Agama Allah, di medan perang Husaima bin Kaab terhujani panah dan tombak di tubuhnya, saat tubuhnya ingin terjatuh maka Rasulullah memeluknya lalu ia berbisik, wahai Husaima, sesungguhnya engkau jauh lebih mulia dari seorang laki-laki.
Bukan karena melampaui kodratnya sebagai perempuan tetapi karena Husaima memperlihatkan sikap yang teguh, prinsip dan cita-citanya menjadikan ia mulia. Dan saya kira, dibelahan dunia ini banyak perempuan yang hebat, tangguh dan pejuang.
Film “Biarkan Kami Bersaudara” yang diperankan nama Aisyah, menginjeksi pikiran kita, bagaimana  sosok perempuan kecil memilih mengabdi di NTT yang kering dan tandus, belum lagi lingkungan ideologis yang berbeda.
sumber website
Tantangan demi tantangan datang silih berganti dalam pengabdiannya untuk mengajar di dusun terpencil. Tetapi Aisyah tak pernah lelah dan menyerah. Sebab, kemajuan satu peradaban tidak selamanya disentuh dengan invation menurut Samuel P.
Huntington disebut sebagai Class Civilitation (benturan peradaban), akan tetapi seribu kemajuan bisa disentuh dengan satu hati perempuan yang berjuang atas nama cinta dan kemanusiaan.
Sekalipun memang dipanggung politik kaum perempuan belumlah dapat memenuhi 30% kouta suara diparlemen. Ada beberapa asumsi yang menyebabkan, pertama, karena rekruitmen perempuan di parpol begitu sedikit dibandingkan kaum laki-laki.
Kedua, rendahnya minat kaum perempuan masuk diarena politik praktis. Ketiga, perempuan lebih care dan memilih aktifitas diluar politik, seperti menjadi pebisnis.
Belum lagi perempuan terpenjara oleh “patriarkisme” dimana kaum perempuan hanya memilih jalan untuk mendampingi suami dan pengasuh bagi anak-anaknya.
Dan suguhan kapitalisme dan wajah metropolis menjadikan patriarki cendrung diseruduk oleh kaum perempuan, dan tidak ayal kalau kemudian “perempuan” juga aktif mengisi ruang-ruang publik dan seabrek kegiatan lainnya diluar rumah.
Tetapi paling tidak bahwa perempuan adalah perekat sosial, dalam pengertian sosok perempuan begitu penting (filsafat romantisme) dalam kehidupan sosial.
Kelembutan dan kesehajaan perempuan adalah pemantik kehidupan, sebab gerak perubahan dan peradaban selalu dilahirkan olehnya.
Dari rahim seorang perempuan lahir kecintaan, lahir generasi dan gerak peradaban. Gerakan perempuan tak semata kesetaraan “gender” merubah lebel (streotipe) yang melekat pada dirinya.
Tetapi, perempuan secara harfiah telah merawat generasinya sejak dikandungan. Sehingga tidak salah kalau diksi perempuan adalah tiang negara atau penyanggah peradaban.
Julia Kristeva telah mendarasnya dalam satu artikel “perempuan, sex dalam sastra” sebagai bentuk respons terhadap perilaku perempuan yang kadang masih terpinggirkan.
Dan sangat berbeda dengan Simone Beauvoir yang secara ekstrim menulis tentang “Perempuan yang Dihancurkan” Menurutnya perempuan layak dihancurkan kalau sekadar penjaga rumah, penyiram tanaman, penjemput anak, bahkan menjadi anjing penjaga di dapur dan meja makan.
Gerakan perempuan dibelahan dunia dengan isu gender adalah gerakan kemanusiaan untuk mengambil peran yang lebih diruang publik.
sumber website
Karenanya perjuangan kaum perempuan adalah satu perjuangan tanpa jedah, berbagai label negatif akan menjadi jalan suci bagi perempuan untuk merebut eksistensinya.
Sebabnya, kita bangga bukan? karena kita lahir dari rahim seorang perempuan. Sebab, perempuan dalam konstitusi negara bagitu masih tidak adil dan mewakili kaumnya (perempuan), tetapi dari rahimnya justru mewakili kemanusiaan secara universal.
Dan bisa dibilang negara hingga saat masih tidak adal dengan kaum perempuan, dan itu terbukti dalam undang-undang pemilihan umum dengan 30% kouta perempuan di parlemen, walau
hingga saat perempuan hanya mencapai 12% kursi diparlemen.
Patriarkisme bukan jalan satu-satunya yang menghambat perempuan untuk merebut panggung, tetapi elitisme yang cendrung megalomaniak kekuasaan, sehingga ketidakadilan dibenarkan dalam undang-undang termasuk dalam undang-undang pemilihan umum, belum lagi dengan undang-undang kekerasan seksual perempuan dibawah umur yang sampai saat ini masih menjadi momok yang menakutkan.
Pertanyaannya, sampai kapan negara ini bisa bertindak adil? Sementara disisi yang lain negara telah menegasikan dalam konsep ideologi Pancasila pada sila kelima Pancasila yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Makna keadilan tidaklah dilihat dari pandangan RAS, suku, agama, warna kulit, jenis kelamin serta budaya. Keadilan adalah senyawa demokrasi.
Bagaiman mungkin membangun demokrasi kalau praktek kekuasaan masih jauh rahim keadilan, itu sesuatu yang absurd.
Sekali lagi, perjuangan gender bagi perempuan bukanlah perjuangan persamaan kelamin secara kodrati, tetapi suatu perjuangan kesetaraan jenis kelamin sosial, hukum, politik, budaya, lingkungan dan agama.
Dimana kaum perempuan tak sebatas “penggendong anak-anak mereka” saja, tetapi kaum perempuan juga harus hadir ditengah publik.
Emak-emak (sebutan saat ini) bagi kaum perempuan dalam panggung kontekstasi politik, mungkin (bisa jadi) sebagai pembangkangan terhadap negara, ketika seorang perempuan hanya mendapat gelar Ibu Negara, Tiang Negara, Ibu Pertiwi.
Yah, gelar tanpa perjuangan, karena hanya disematkan kepada peraihan sang suami, bukan karena jerih payah seorang perempuan dalam perjuangannya.
Oleh sebab itu, perjuangan perempuan adalah bukti lemahnya negara dalam hal pemihakan terhadap perempuan. Contoh misalnya, pelacur itu adalah perempuan, selalu dicaci, dicibir, dihina, bahkan pelebelan itu menjadi akut dalam kehidupan masyarakat.
Situasi ini telah memenjarakan perempuan secara sosial. Tetapi tidak adilnya, laki-laki sebagai subyek pelacuran tidak pernah dicerca. Dan, bisa dibilang hal yang biasa.
Secara filosofis, sekalipun laki-laki itu melacur dengan membayar dengan biaya yang tinggi, bahwa dengan tidak sadar mereka (kaum laki-laki) telah melakukan penindasan, ketidakadilan, dan pengrusakan terhadap jiwa perempuan (dalam hal yang substantive). Terus, kalau demikian apa tindakan negara terhadap kaum laki-laki?
Karena itu, berbagai problematik sosial yang ada, maka negara harus hadir disitu. Kekuatan regulasi dari produk politik setidaknya harus bermuatan nilai keadilan.
Politik tentunya sangat diharapkan untuk melakukan itu sehingga setiap warga negara baik itu perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam negara. Perempuan berjuang untuk memenuhi kouta parlemen threshold 30 % sebagai perjuangan politiknya.
Sementara politik adalah instrument negara secara konstitusi sebagai proses demokrasi untuk membangun peradaban dan keadilan.
Sedangkan cinta adalah, nilai, etika, estetika, keindahan, kesejukan. Sehingga untuk menghadirkan politik yang humanis maka taburilah CINTA diatasnya. belitongekspres.co.id
Oleh : Saifuddin Al Mughniy
Pengamat Politik. OGIE Institute Research and Political Development. Direktur Eksekutif Lembaga Kaji Isu-Isu Strategis (LKiS). Anggota Forum Dosen Indonesia. Pendiri Roemah Literasi Titik Koma Indonesia. Pendiri Aufklarung School Belitung. Dan Peneliti Maping Sosial di Belitung Sumber Facebook Lukman sekuncai
Clickadu

Komentar


Warning: sizeof(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u4853462/public_html/wp-content/plugins/ad-injection/ad-injection.php on line 824

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u4853462/public_html/wp-content/plugins/ad-injection/ad-injection.php on line 831

News Feed