oleh

Manusia Dan Penge(Tahu)an

Clickadu

Oleh : Saifuddin Al Mughniy
Penulis Buku Manusia & Jejak Pengetahuan


Sejarah bagi manusia atau manusia sebagai sejarah adalah dua hal yang tak pernah terpisah ketika tema tentang peradaban, ilmu pengetahuan dan sejarah itu sendiri diangkat ke permukaan. Alasanya begitu kuat, yakni bahwa ketiganya tak terpisah karena dimensi ketiganya selalu saling melengkapi satu sama lain. Perkembangan peradaban ummat manusia misalnya selalu menyertakan tentang budaya, kebiasaan, pengetahuan baik itu yang bersifat tradisional maupun secara kultural menjadi begitu penting bagi keberlanjutan eko sistem dan spesies manusia dizaman itu.
Maka sejalan dengan perkembangan serta pergeseran peradaban ummat manusia, maka kita dapat menyimak bahwa Ilmu atau ilmu pengetahuan secara bahasa bisa diartikan sebagai memahami, mengerti, atau mengetahui.

Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya. Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan
dalam alam manusia. Ilmu pengetahuan adalah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu, termasuk “pengingat sejarahnya”.
Dengan kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa, diwaktu kecil kita belajar membaca huruf abjad, lalu berlanjut menelaah kata-kata dan seiring bertambahnya usia secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita terus belajar membaca, hanya saja yang dibaca sudah berkembang bukan hanya dalam bentuk bahasa tulis namun membaca alam semesta seisinya sebagai usaha dalam menemukan kebenaran. Dengan ilmu maka hidup menjadi mudah, karena ilmu juga
merupakan alat untuk menjalani kehidupan. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.


Karena itu ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi. Manusia bila dibanding dengan hewan maka tubuh manusia lemah. Gajah dapat mengangkat beban yang sangat berat, kuda dapat berlari sangat cepat. Mengingat manusia mempunyai akal dan budi serta kemauan yang
sangat kuat. Sehingga manusia dapat mengangkat beban lebih berat dan berlari sangat cepat bila dibanding dengan gajah dan kuda yaitu, menusia dengan akal dan budi dapat menciptakan teknologi berupa mesin hidrolik dan pesawat jet. Kuriositas atau rasa ingin tahu manusia terus berkembang. Hewan juga mempunyai rasa ingin tahu, tetapi didorong oleh naluri (insting). Naluri hewan bertitik tolak untuk dapat mempertahankan hidupnya, dan sifatnya tetap sepanjang tahun. Manusia disamping mempunyai kuriositas juga dilengkapi akal dan budi sebagai instrument paling penting untuk menemukan esensi pengetahuan dan kebenaran dalam ilmu.


Sehingga rasa ingin tahu dapat berkembang dan tidak pernah ada puasnya . Untuk dapat memuaskan rasa ingin tahu (rahasia alam) manusia menggunakan pengamatan dan pengalaman serta menggunakan logika, maka akhirnya munculah pengetahuan. Pengetahuan adalah kumpulan fakta-fakta, baik itu fakta primer maupun sekunder. Tanggapan terhadap gejala-gejala alam merupakan suatu pengalaman. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan dan itulah yang disebut dengan pengetahuan empiris. Perkembangan pengetahuan karena didorong dua faktor pertama untuk memuaskan diri guna memahami hakekat kebenaran
dan kedua untuk meningkatkan status dalam kehidupan dan lingkungannya.


Sehingga manusia dengan potensi akan dan pikirannya muncul dorongan pertama akan memperoleh pengetahuan murni (teoritis) dan dorongan kedua akan memperoleh pengetahuan praktis (aplikasi) atau ilmu terapan, ilmu alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat dinamis, artinya kegiatan yang tiada henti. Dari hasil percobaan akan memperoleh konsep (teori) baru yang selanjutnya akan mendorong manusia untuk melakukan percobaan, demikian seterusnya. Dimana kita hidup?, Kapan kita dilahirkan?, tanaman apa yang membuat kita bersin bersin?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sesuatu yang berasal dari ketidak-tahuan, dan
pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tindakan pikiran manusia tentang filsafat pengetahuan (Ontologis, Epistemologis, dan Axiologis), sehingga jawaban dari ketidak-tahuan itu adalah ilmu pengetahuan.

Dengan ilmu pengetahuan maka terjawablah semua pertanyaan karena pada dasarnya ilmu pengertahuan itu tercipta dari rasa penasaran seseorang, kemudian ketika dia mencari tau tentang seluk-beluk yang tidak dia ketahui maka dia akan mencari dengan segala cara agar rasa penasarannya itu terpenuhi, maka kesadaran pengetahuan yang digerakkan oleh akal dan pikiran menyebabkan manusia jadi “tahu” dan mengetahui. Misalnya, ketika seorang bayi yang belum mengerti apa itu sebuah bola karena akalnya baru bisa berfungsi, maka dia akan menjilati bola itu, merabanya, mencium baunya kemudian memukul- mukulnya untuk mengetahui apa yang bakal terjadi terhadap bola. Dan untuk seseorang tau akan suatu hal yang dia penasaran untuk ketahui tidak cukup sekali proses, butuh beberapa kali percobaan agar rasa ingin tahunya itu terpuaskan, hal ini disebut dengan eksperimen. Ilmu
pengetahuan berawal dari alamiah dan sifat logis manusia. Yang mendasari ilmu pengetahuan manusia berasal dari sifat alamiah manusia sebagai pemilik dan pengguna akal, akal kita akan selalu merekam apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa yang kita sentuh dan raba dan apa yang terecap berupa rasa di lidah kita. Kemudian otak akan mengolah data yang diterima dan diterjemahkan menjadi pengetahuan. Adapun logika manusia membuat pengalaman panca indera kita lebih luas lagi, sifat logis menjadi mesiu pemicu akal kita untuk memikirkan secara sesuatu lebih luas dan mendalam. Karena logika berfungsi untuk mengetahu hakekat ilmu dan pengetahuan itu secara benar atau salah. Ilmu mantik (logika) tentu menjadi ukuran benar salahnya pengetahuan manusia terhadap obyek yang dipikirkan atau yang ditemukan.
Logika manusia juga mendasari segala macam bentuk pertanyaan dan logika juga menemukan jawabannya melalui pengalaman dan pada akhirnya menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan sebagai anugerah Tuhan. Tuhan sang maha pencipta akal, menjadikan manusia itu berbeda dengan binatang karena akal dan kecerdasannya. Manusia yang memiliki akal akan senantiasa menggunakan akalnya untuk diisi dengan ilmu pengetahuan dari yang paling dasar seperti cara bertahan hidup sampai yang paling mendetail tentang alam semesta beserta planet, galaksi dan bintang-bintang. Sebagai makhluk Tuhan maka sepatutnya bagi kita mensyukuri nikmat akal yang diberikan dengan menggunakannya untuk menggali dan memahami seluruh ciptaan tuhan. Karena itu ilmu pengetahuan menjelaskan yang lalu dan yang akan datang.


Sebagai manusia yang hidup di masa sekarang, kebutuhan akan ilmu pengetahuan tentang suatu yang sudah lalu adalah suatu yang penting. Sebab masa lalu adalah pengetahuan manusia tentang sejarah.
Hal ini dikarenakan kita sebagai manusia mesti mengetahui apa yang sudah terjadi dalam kehidupan kita atau sebelum adanya kita di dunia dalam bentuk makhluk hidup, kita jadi tahu apa yang dilakukan manusia sebelum kita melalui sejarah, kita jadi mengerti kenapa zaman dahulu spesies makhluk bernama dinosaurus bisa punah, bahkan jika ditarik lebih jauh lagi, kita bisa mengetahui bagaimana proses terjadinya planet bumi dan alam semesta ini. Ilmu pengetahuan mengenai sesuatu yang akan datang juga merupakan hal yang penting, manusia bisa menjadi modern dan faham terhadap teknologi seperti sekarang ini karena manusia selalu
memikirkan akan kebutuhan dan keinginannya di masa depan.


Untuk memenuhi perkembangan zaman, dibuatlah alat komunikasi canggih yang bisa menghubungi manusia satu sama lain di tempat yang berjauhan. Hal ini berawal dari manusia yang memikirkan masa depannya. Pengetahuan mengenai masa depan ini akan memberikan manfaat bagi generasi selanjutnya. Ciri-ciri ilmu pengetahuan yang baik dan benar, pertama, objektif Ilmu pengetahuan harus memiliki objek yang ingin diketahui. Objek ilmu pengetahuan itu memiliki dua kemungkinan yaitu ada atau tidak ada. Oleh karena itu harus diuji objek pengetahuan itu mengenai kebenarannya. Baik itu tentang yang ada maupun yang tidak ada.
Sehingga dalam mencari objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni kesesuaian antara pengetahuan dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif, bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjangnya. Contoh : mengetahui tentang kenapa terjadi suhu dingin di malam hari, kesimpulan harus diambil karena fakta yang terjadi pada objeknya berupa cuaca adalah karena tekanan udara pada malam hari rendah menghasilkan udara dingin, bukan dari subjek diri kita karena kulit dan tubuh kita merasakan dingin.
Kedua, metodis yakni upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yangberarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya
merujuk pada metode ilmiah. Contoh : meniliti tentang tingkah laku hewan lalat, maka ada langkah yang ditempuh yaitu diamati dengan alat pembesar dan diumpan agar tertarik, ini yang menjadi cara bagi kita untuk mengetahui tingkah laku si lalat. Ketiga, Sistematis Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan
terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.


Dalam hal ini pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang baik dan benar. Contoh : mengetahui proses pembentukan janin didalam rahim, maka harus kita ketahui secara runut mana yang lebih dahulu dalam proses
terjadinya janin didalam rahim. Tidak sistematis apabila kita mengambil kesimpulan mengenai proses janin hanya dengan melihat ketika kelahiran tentu hal ini menjadikan pengetahuan jadi tidak sistematis. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum
(tidak bersifat tertentu). Maka, manusia adalah subyek berfikir atas obyek yang dipikirkannya, dan itulah pengetahuan yang sesungguhnya.

Clickadu

Komentar

News Feed