oleh

Belangkas Disangka Ketam

-Berita, Daerah-75 views

Seketika orang menjadi gandrung ke laut. Dalam waktu yang tak lama, halaman rumah warga pesisir pantai Tanjungpendam dipadati motor. Warga kaget, serta merta warga menerapkan ” Pembatasan Sosial” di halaman rumahnya.

Fenomena ini tak biasa.” Aku nok biase nyulo (menangkap udang) jak dak nyangke, sebanyak itu urang ke laut. Mungkin sebelum Subuh mereka datang,” kata warga yang biasa nyulo.

Dengan tanggok (serok) orang mulai memburu. Yang tak biasa mengikuti perilaku yang terbiasa. ” Nah aku dapat ketam gede.” Yang dimaksud ketam ternyata belangkas. Ini membuktikan mereka hanya ikut-ikutan.

Orang sekitar menganggap ini lucu, tapi belangkas pasti merana karena ketentramannya diusik. Kalau bisa bicara, belangkas akan memarahi orang yang tidak mengenal akan tempatnya berpijak. Bagi manusia, nyulo berkerumun bisa jadi sekedar mencari hiburan tapi bagi belangkas, keramaian itu pertarungan hidup dan mati.

Fenomena orang mengalihkan usaha ke laut juga terjadi di pesisir Utara Belitung. Camat Sijuk sebagaimana dikutip media online Dunieusaha.com menyebut pemilik perahu yang biasa mengangkut wisatawan, kini beralih menyewakan perahu untuk memancing ikan.

Tak seramai nyulo, memancing umumnya dilakukan mereka yang mengenal sawar (sarang ikan). Tidak asal karena akan berimbas pada hasil yang didapat meskipun penyewa perahu tidak peduli hasil tangkapan yang penting, pendapatan di masa pandemi ini bisa tergantikan.

Tentu. Karena Tuhan tidak menaburkan rejeki serabutan. Ketika manusia yakin akan kemurahan Tuhan dan sadar alam ini diciptakan untuk manusia, manusia akan bertaqwa. Taqwa ini ukuran kualitas manusia di dunia, tidak memandang siapa yang paling banyak mendapat udang, belangkas, ketam atau yang hasil melaut. (Fiet, Majelis Kelekak)

Komentar

News Feed