oleh

Buruh, Kuli dan Pegawai

-Berita, Daerah-58 views

Orang tua itu berkisah di masa kelam tahun enam puluh limaan, sahabat juga pelanggan pisang goreng panas istrinya tersandung status “urang mira”. Ihwalnya bermula dari tatakan gorengan panas.

Diambillah kertas tanpa tahu kalau kertas itu berisi formulir buruh yang tercatat sebagai organisasi terlarang. Menyusul  di kampung tak jauh dari lokasi tambang, sempat terdengar pembagian sembako. Penerima Bantuan pun tercatat sebagai  golongan terlarang. 

Pedih jika dikenang dan lebih ironis lagi, banyak kuli tambang harus baring berbaris menuju negeri harapan. Cina kuncit biasa mereka dijuluki. Mereka bekerja di parit-parit tambang tetapi begitu mendapat upah, mereka terpedaya dengan hutang candu, hutang judi dan tak jarang tertikam rayuan perempuan.

Masa itu berlalu. Wajah baru mencerdaskan kehidupan bangsa seperti janji Proklamasi. Di Belitung, berdasarkan data Sakernas Agustus 2019 tercatat 95.583 orang bekerja Dan 2583 orang menganggur dari 98.436  Angkatan Kerja.

Tenaga kerja terurai dalam kelompok usaha, diantaranya buruh/pegawai/karyawan sebanyak 47.589 orang, berusaha sendiri sebanyak 23.266 orang dan berusaha dibantu buruh tidak tetap sebanyak 7.587 orang.

Di masa pandemi, seperti Halnya buruh di dunia, buruh di Belitung pun terdampak. Tetapi pemerintah tidak tinggal diam. Semangat bekerja dari rumah dihimbau, Penguatan jaring pengaman sosial diupayakan.

Dalam livestreaming,  Wabup Belitung Isyak Meirobie pun menegaskan bahwa pemimpin daerah tidak meninggalkan masyarakatnya. Selamat Hari Buruh 1 Mei 2020. ( Tim )

Komentar

News Feed