oleh

Empat Belas Purnama

Cahayanya menyentuh bumi. Belum penuh, masih malam empat belas namun memberi isyarat sinar kebaikan akan tiba pada masanya.
Purnama begitu romantis, memberi ruang bagi pemburu untuk datang. “Bansaai benar nimbak pelandok tika kini.”

“Hhmm nak ngalin dak kebenaran mikak disantup antu berasuk”. Mitos Antu berasuk cepat sekali menyebar. Tak pelak pemburu waspada. Ini memang masa pelandok bersantai, memadu kasih.

Mitos menuntut adab agar manusia waspada, jangan terlena. Apalagi sekarang, antu berasuk berkeliaran. Ia seperti virus yang mengincar siapa saja yang lengah.

Achh, itu dulu. Kenapa diulang. Tentu ada maksud kisah itu diulang. Lihat saka tetanggak kita, Bangka Barat. Mereka berjibaku dengan kurva tumbuh virus justeru pada saat kita menuju zona hijau.

Arah ini belum sempurna namun memberi keyakinan ada harapan baru bagi pedadang, pemilik warung bertemu pembeli. ” Gerbang masuk perlu dijaga,” ujar Bang Adi di kedainya. Sementara, pemilik kedai lain mulai bersemangat. Imbas dari Zona Hijau memberi ruang berusaha lebih lebar.

Aku jadi teringat dengan tiga rantai. Rantai wabah meski terputus namun rantai makanan dan rantai produksi harus bergerak.

Bang Adi tak hirau dengan bantuan sembako. Kalau boleh memilih rantai produksi yang utama. Bantuan Sosial terutama bantuan tunai ia harapkan agar bisa meningkatkan daya beli pelanggannya. Tanpa daya beli rantai produksi tidak akan bergerak. ” Ini seperti roda. Daya beli itu seperti persneling 1 Dan 2. Sedang kegiatan usaha itu persneling 3 dan 4,” katanya.

Bang Adi berandai-andai, ada
cluster ekonomi di Tanjungpendam. Bertahap, dengan protokol kesehatan yang ketat tentunya. Anggap saja semacam Kawasan Ekonomi Khusus. KEK menguatkan zona hijau.

Sayang, belum sempat terwujud ada saja ” antu berasuk” membawa koper. Entah apa yang mereka cari. Perempuan bertato, kenapa engkau datang disaat harapan kami mulai bangkit. (Fiet)

Komentar

News Feed