oleh

Troya Dan Trojan, Ayo Semangat Hijaukan Belitung

When in war time as many people know, the government does not need to ask anyone to take precautions to get safety. When someone knows that we are at war, they take refuge without the government’s request.

Tulisan diatas dikutip dari akun Claria Utari. Ku ambil saja kata kuncinya, yakni soal perang. Kita juga sedang perang saat ini, di medan pandemi dengan makhluk renik bernama corona.

Medan pandemi corona tak pernah kita bayangkan. untuk skala epidemi kita sering menuntut pemerintah agar menaikkan bendera KLB (Kejadian Luar Biasa). Biasanya setelah itu akan muncul panji perang dimana-mana berupa poster himbauan.

Panji perang menjadi pengobar semangat kuang namun bukan bagian dari strategi menyeluruh. Tetiba dua mata ini memandang media rupa, lukisan kuda yang terpajang di Galeri Bansai, penuh makna.

Kuda dijadikan simbol kekuatan, bahkan dalam mitologi Yunani, kuda dijadikan strategi bangsa Akhaia (Yunani) menguasai Kota Troja setelah frustasi karena selama 10 tahun tak pernah menang.

Betapa tidak, kita yang berada di medan pandemi selama 14 hari saja frustasi berlindung diri di rumah. Padahal, bersembunyi itu adalah strategi yang paling ampuh.

Bangsa Akhaia membuktikan dengan menaruh serdadu dalam tubuh kuda kayu untuk masuk ke Kota Troja. Lawan berpikir, kuda kayu itu simbol kemenangan ternyata sebaliknya. Begitu musuh lengah, serdadu keluar dari tubuh kuda. Troja akhirnya di kuasai.

Maka sejak itu kuda Troja popular sebagai strategi perang. Pengembang virus komputer menjadikan kuda troya mengabadikannya sebagai nama virus yakni trojan

Allah mengajarkan manusia ketaatan melalui kuda dalam Surah Al ‘Adiyat (1-11), yang artinya Kuda Perang yang Berlari Kencang

Kuda perang itu bisa berlari kencang, mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.

Dalam lingkup ayat 1-11, ini Allah juga menyebut bahwa manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.

Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Fenomena di masa pandemi ini serupa. Kita digiring frustasi dengan keadaan, takut dengan stok pangan 3-6 bulan ke depan seolah Belitong tidak pernah mengalami masa paceklik.

Sehingga perawi sejarah tambang Belanda menyebut Belitong diambang krisis karena mengampuan mengolah pangan. Belanda hanya menggiring pasokan sembako yang mereka atur dengan djawatan ekpedisi mereka. Mereka seperti meremehkan potensi lokal, seolah hanya Belanda yang menjadi tempat orang kampung bergantung hidup.

Pelepah kelapa kering yang dijadikan Dharmawan Engon sebagai media rupa dengan kuda diatasnya seolah pembangkit semangat perang. Perang untuk membuat Belitung hijau kembali. Mari Bung ! Kita rebut kembali. Tinggal satu pasien lagi (Fiet, Ngenjungak)

Komentar

News Feed