oleh

Digitalisasi Di Fase New Normal

Rendahnya konsumsi rumah tangga berimbas terhadap perkembangan UMKM. Pada bulan Mei 2020 tercatat sebesar 72,60 persen UMKM terdampak Covid-19. Hal ini disebabkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat.

Karena itu, kedepan tantangan UMKM adalah perubahan perilaku sosial masyarakat. Sementara itu, Gubernur Bangka Belitung berharap perlu mendorong ekpor perikanan khususnya komoditas udang mengingat potensi garis pantai di Kepulauan Bangka Belitung cukup panjang.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Chapter Bangka Belitung yang juga Dekan Fakultas Ekonomi UBB Reniati menyebut, Covid-19 menjadikan kondisi dalam situasi less contact economy sehingga teknologi informasi memberi peran yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi terutama sektor UMKM.

Saat ini keberadaan UKM memberikan kontribusi diatas 90 persen bagi ekonomi nasional. Karena itu UMKM dianggap sebagai tulang pungung ekonomi. Hal ini terungkap dalam dalam Webminar “New Normal di Bangka Belitung, Peluang Dan Tantangan Penguatan Ekonomi” (8/7/2020) yang diinisiasi Kantor Bank Indonesia Perwakilan Babel.

Namun demikian UMKM yang didaftarkan sebagai unit usaha yang terdampak Covid-19 hanya sebesar 3,09 persen atau 4.993 unit dari 161.186 UMMK yang tercatat.
Dari jumlah UMKM tersebut 0,5 5 merupakan usaha menegah, 32,2 % merupakan usaha kecil dan 77,3 % merupakan usaha mikro. Dari mini riset yang dilakukan UBB terhadap kinerja UMK tergambar bahwa bidang usaha kuliner merupakan bidang usaha dominan di Babel yakni sebesar 68,6 persen.

Menurut Rinanti, UMKM bisa mendapatkan peluang usaha di masa Covid-19 antara lain dengan melakukan regionalisasi produk (rantai produksi). Kedua memperkuat konektivitas digital. Ketiga, melakukan peninjauan kembali terhadap keuntungan densitas, khususnya pada sektor pariwisata. Keempat mengamati pola industri.

Di masa pandemi terjadi perubahan produk industri rumah tangga yang kembali ke dasar piramida (Maslow need study) yakni berorientasi atau berbasis pangan.

Strategi KUKM
Setidaknya ada 6 (enam) model bisnis UMKM yang direkomendasikan ISEI di era New Normal yakni 1. Legalitas (IUMK,PIRT, Halal, BPOM, ISO), 2. Kompetensi dan sertifikasi, 3. Konsern (orientasi) pada produk kesehatan, pangan dan natural, 4. Menggunakan teknologi dalam produksi, 5. Digitalisasi pemasaran dan sistem pembayaran online (QRIS), modal murah, 6 Inovatif, solutif dan empati.

Ketua ISEI Babel juga menjelaskan kondisi UMKM berdasarkan Survey ICSB Indonesia (2020). Berdasarkan hasil survey terdapat empat aspek utama permasalahan UMKM yakni aspek pemasaran, aspek operasional, aspek SDM dan aspek keuangan.

Permasalahan pada Aspek pemasaran adalah penurunan permintaan pelanggan (78%), Kesulitan berjualan daring (17%). Aspek operasional meliputi Kenaikan harga bahan baku (51,8%), kesulitan mendapat bahan baku (32,9). Aspek SDM meliputi penurunan motivasi kerja (53,3%) dan penurunan produktivitas (29,7%). Aspek Keuangan meliputi kekurangan uang kas (58,8%) dan hutang atau kredit yang jatuh tempo (38,8%).

ISEI Babel juga melakukan memetakan pengaduan UMKM dari 1.131 UMKM. Adapun jenis pengaduan UKMK : penurunan penjualan (68%), kesulitan modal (12%), distribusi terhambat (10%), kesulitan bahan baku (6%), produksi terhambat (4%)

Peran Diskominfo
Bank Indonesia memetakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan penyebab perlambatan kinerja ekonomi Triwulan II (April-Juni) dibandingkan dengan kinerja Triwulan I (Januari –Maret).

Perlambatan ini dipengaruhi oleh kondisi global, regional dan nasional. Bank Indonesia melakukan tracking terhadap faktor pendorong (final demand) pertumbuhan ekonomi yakni komsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi , ekspor dan neraca perdagangan.
Webminar lebih menyorot pada pertumbuhan UMKM Babel.

Sorotan yang relevan dengan peran Diskominfo adalah terkait dengan dukungan teknologi informasi mengingat fase new normal menjadi pola ekonomi menjadi less contact economy (transaksi tanpa interaksi) terutama dalam memperkuat konektivitas digital (peluang usaha UMKM). Setidaknya kendala akses internet dapat diatasi.

Peran teknologi informasi menjadi penting mengingat model UMKM fase New Normal berciri kuatnya peran teknologi dalam produksi, digitalisasi pemasaran dan sistem pembayaran online (QRIS), modal murah, serta berciri inovatif, solutif dan empati. (IKP)

Komentar

News Feed