oleh

BKPRMI Sesalkan Pernyataan RS Soal Mualaf

-Berita, Daerah-277 views

Tanjungpandan – Badan Komunikasi pemuda remaja masjid indonesia (BKPRMI) Kabupaten Belitung angkat bicara terkait dugaan kasus penistaan agama yg dilakukan oleh salah satu petinggi partai RS. Ini bermula disaat RS membuat postingan disalah satu akun media sosial miliknya yg bertuliskan “Ngaku Mualaf hanya untuk jabatan..??? CCTV dirumahku terekam tanggal anda menyantap kaki b*bi !!! Kita share okey??😆😆”.

Reja Novian perwakilan BKPRMI seizin ketue BKPRMI kabupaten Belitung kepada sejumlah wartawan mengatakan,dengan unggahannya tersebut RS telah merusak tatanan kerukunan umat beragama dan terkhusus telah melecehkan Umat Islam. Karena yg mengharamkan konsumsi babi dalam kitab sucinya hanyalah islam.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Baqarah [2]: 173),” jelas Reja

“Terlebih lagi ini menjurus kepada mereka yg baru masuk islam dan belajar mengenai hukum-hukum dalam islam atau yg kita kenal sebagai mualaf. Tidak sepantasnya seorang petinggi partai didaerah melontarkan kata-kata tersebut,” jelas Reja

Reja menyayangkan,seharusnya RS lebih mengetahui bagaimana merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan langsung mencibir lewat media sosial. Yang membuat kerukunan umat beragama goyah. Urusan politik selesaikan dengan cara politik dan jangan campurkan dengan urusan beragama terlebih anda bukan ahlinya dan bukan muslim, “cukup bagimu agamamu, bagiku agamaku”(Q.S Al-Kaafiruun:6). Ini jelas sebuah dugaan penistaan terhadap agama islam.

“kami akan melihat keseriusan Polda Prov. Babel dalam hal ini menangani kasus tersebut, atas masuknya laporan dari PITI Kab. Belitung dan saudara Fendi Haryono selaku anggota DPRD kab. Belitung,kami juga menghimbau juga kepada seluruh masyarakat bahwasannya kebebasan untuk menggunakan media sosial yang diberikan pemerintah tidak boleh disalah gunakan untuk menyinggung dan menghina agama lain. Sebab, hal itu sangat berpotensi menyebabkan ketegang antar ras, suku, dan umat beragama”,terang Reja.

Komentar

News Feed