oleh

IKPB Akan Kawal Kasus Arak

-Berita, Daerah-91 views

-Arak Merusak Moral,Mental dan Organ Tubuh

Tanjungpandan-Terkait dengan penggerbekan pabrik arak oleh bupati Belitung beberapa waktu yang lalu,dimana didapati beberapa drum arak di dua tempat berbrda,yaitu didusun asam lubang air merbau dan di jalan kapten Saridin,Ikatan Keluarga Pelajar Belitung (IKPB) cabang Belitung menilai perlunya tindakan tegas,karena ini menyangkut dengan kerusakan moral dan juga kesehatan bagi orang yang mengkonsumsi arak.

Levie Octoriza,ketua IKPB cabang Belitung menyampaikan bahwa jika saat ini peredaraan arak sungguh sangat meresakan bagi masyarakat,selain menimbulkan efek mabuk,minuman ini diketahui juga tidak memiliki lebel atau lisensi dari dinas kesehatan dan dengan harga murah bisa membikin orang mabuk serta mengganggu kesadaran bagi peminum arak.

“kita sudah survei,bahwa harga arak dijual per kampil (kantong plastik),dengan harga Rp. 15.000,dengan harga segitu bagi kalangan pemuda dan pelajar cukup murah,satu kampil bisa diminum dua orang yang menyebabkan efek memabukkan,selain itu minuman ini juga tidak ada lisensi resmi dari departemen kesehatan maupun BPOM,berawal dari meminum arak bisa merembet ketindak kriminal lainnya,baik itu,perkelahian,pengeroyokan,pencabulan ataupun pencurian,”jelas Levie.

Levie memaparkan jika dari hasil riset dan survei dirinya bersama teman-teman,diketahui arak dibuat dari hasil permentasi beras,sedangkan dalam beras itu sendiri terdapat kadar gula yang tinggi,bisa dibayangkan bila rutin mengkonsumsi arak,disamping menimbulkan efek mabuk,juga akan menimbulkan kerusakan pada beberapa organ tubuh.

“Dalam kitab hukum pidana(KUHP),negara republik indonesia pasal 204 ayat 1 yg berbunyi,barang siapa menjual,menawarkan,menyerahkan atau membagi-bagikan barang yang diketahuinya membahayakan nyawa atau kesehatan orang,sedangkan sifat berbahaya itu tidak diberitahukannya,diancam dgn pidana penjara paling lama 15 tahun, sedangkan pada pasal 137 ayat 1 berbunyi,setiap orang yg memproduksi pangam yg dihasilkan dari rekayasa genetik pangan yang belum mendapatkan persetujuan keamanan pangan sebelum diedarkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat 1,dipidana dgn pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda pling banyak sepuluh milyar rupiah”papar Levie.

Pada kedua pasal itu sudah jelas jika arak merupakan barang yang membahayakan nyawa seseorang,tapi juga disebutkan jelas hukuman pidananya.

“peredaran arak tanpa merk dan lebel serta peringatan berbahaya,jelas sudah melanggar aturan,sedangkan arak merupakan hasil permentasi dari beras atau bisa juga dikatakan sebagai rekayasa pangan yang belum mendapatkan izin,hukum dan acaman pidananya sudah jelas,ini bisa menjerat pembuat arak ke arah pidana,kami juga berharap supaya proses hukum terhadap pemilik pabrik arak ditegakkan setegak tegaknya,karena ini menyangkut kerusakan moral,mental dan organ tubuh masyarakat pada umumnya dan pemuda serta pelajar pada khususnya,kami percayakan proses hukum ini kepada aparat penegak hukum dan kami akan kawal kasus ini sampai usai,”tegas Levie.

Komentar

News Feed