oleh

Alat Berat PT. M3 Dihadang Satpam PT. AMA ?

-Berita, Daerah-416 views

PT. Mitra Mandala Mulya ( PT. M3 ) tetap bersikukuh ingin masuk dan melaksanakan pemasangan patok dan pembuatan parit ( bandar ) batas IUP PT. Mitra Mandala Mulya, pada tanggal 26 Oktober 2021 jam 10.00 ketika mau masukkan pertama kali alat berat dihadang oleh satpam akhirnya batal dan kemudian pada tanggal 4 November kembali PT M3 mencoba masukkan alat berat namun gagal lagi karena dihadang oleh satpam PT. Agro Makmur Abadi ( PT. AMA ), PT AMA tetap bersikukuh menghadang alat berat dan melarang PT. M3 untuk melaksanakan kegiatan tersebut diatas, Kecuali melakukan pemasangan patok asal tidak merusak pohon sawit milik PT. AMA, karena tidak ada kesepakatan kedua belah pihak membuat Berita Acara, hadir saat itu, Perwakilan PT. AMA, PT. M3, Satpolpp, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Intel Kodim, dan Polsek Sijuk (4/11/2021)

Pihak PT. Mitra Mandala Mulya yang diwakili oleh Humasnya Badia Parulian Lumbanturoan, S.S ketika dikonfirmasi oleh wartawan mengatakan,” kami mendatangkan alat berat rencananya untuk membatasi IUP PT.M3 dengan membandari atau membuat parit dan memasang patok dan yang kami lakukan legal sesuai IUP,, tapi dalam hal ini pihak PT. AMA menolak PT. M3 melakukan pembuatan parit kecuali pemasangan patok, alasan mereka karena akan merusak tanaman mereka, yang pasti kami punya IUP artinya Legal, IUPnya IUP Pertambangan, justru kita bertanya kenapa kita dilarang dari sisi segi manapun tidak boleh dilarang, inikan IUP Tambang seharusnya tidak boleh ada tanam tumbuh apalagi tanam sawit,” Jelas Badia

” Berkaitan dengan kejadian penolakan tersebut kami minta dibuatkan berita acara penolakan dan PT. AMA bersedia dan membuat berita acara tersebut yang di tanda tangani oleh perwakilan dari PT. M3 saya sendiri, pihak PT. Ama diwakilkan oleh Gusti manager divisi II Selumar dan ditanda tangani saksi saksi yaitu perwakilan dari Polpp Kab. Belitung Abdul Hadi, dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Hamzah, Herlambang dari Kodim 0414,’ ujar Badia

Berkaitan dengan pertanyaan wartawan kalau seandainya pada pertemuan selanjutnya deatlock badiah mengatakan ‘ kita berharap tidak deatlock lagi, karena pihak managemen PT. AMA saja yang tidak paham terhadap persoalan ini, kenapa karena inikan sudah ada keputusan MAnya, IUP ada, jadi dari pihak kami menganggap PT. AMA sudah salah menanam dilokasi yang bukan milik mereka, dan ini akan kita teruskan ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian apakah HGU mereka itu sampai ke IUP kami, padahal sudah kroscek tapi mereka tidak mengakui, padahal peta sudah lengkap titik koordinat juga sudah ada, kemudian sekedar diketahui bahwa pada tahun 2018 tepatnya saya lupa tapi dokumentasinya ada, pertemuan itu difasilitasi oleh Polres Belitung untuk menyelesai permasalah tersebut dan dihadiri oleh pihak PT.M3, PT. AMA, Bupati Belitung, kemudian semua pokomida, kepolisian dan instani terkait lainnya, itu sudah ada kesepakatan dan ini legalitasnya milik PT. M3 dan pihak managemen PT. AMA saat itu di wakili oleh pak Aman hadir juga pak Hadi loyer mereka juga hadir mereka menerima dan mengakui itu milik PT. M3, dan bupati sendiri menekannya bahwa legalitas PT M3 resmi,” ungkap Badia

” Justru yang menanam PT. AMA di IUP milik kita, jadi kalau mereka minta ganti rugi, itu tidak ada dasarnya, karena apa, mereka nanam di IUP kita dan sudah belasan tahun, hasilnya sudah banyak emangnya mau ganti rugi apa dengan mereka, menanam di wilayah PT. M3 kok minta ganti rugi, logikannya dimana, harusnya mereka legowo kita tidak pernah panen sawit mereka mereka yang panen dan memetik hasilnya menanam di lahan milik PT. M3, intinya kedepan, kami tetap ingin melaksanakan sesuai legalitas perusahaan, pembuatan batas dengan bandar/parit dan pemasangan patok, masalah itu nanti ada HGU atau IUP itu urusan mereka dengan Dinas Ketahan Pangan dan Pertanian, intinya kami tetap akan melaksanakan kegiatan dan beraktifitas di lahan yang sudah ada IUPnya,” tegas Badia

Sementara itu Manager divisi II selumar PT. AMA kepada wartawan menjelaskan,” berkaitan dengan kejadian penghadangan alat berat oleh satpam kami, sesuai surat yang mereka kirim ke kami yang isinya diantara ingin memasang patok dan membuat bandar, kami melarang mereka melakukan pembuatan bandar atau parit karena itu akan merusakkan tanaman kami, kecuali kalau hanya melakukan pemasangan patok itu boleh boleh saja asal tidak merusak tanaman sawit kami, karena otomatis kalau melakukan pembandaran pasti tanaman pokok sawit kami rusak,” jelas Gusti

Dinedra atau biasa disapa Uda perwakilan PT. AMA melanjutkan menjelaskan permasalah tersebut,’” tadi kita sudah sepakat dan membuat berita acara dan nantinya akan melaksanakan pertemuan lagi jadi kalau nantinya tidak ada kesepakatan, kami belum bisa bicara, saat ini kita tidak bicara masalah ganti rugi sawit, kalau mereka mau melakukan pembuatan bandar atau parit tetap kami menolah tapi kalau mau masang patok silahkan kami akan kawal, untuk HGU dan dokumen lainnya PT AMA lengkap cuma tidak bisa kita beritahu disini, itu legalitasnya kepengadilan bukan ke Media, karena itu ada titik koordinat, nama itu semua kami jaga kode etik itu, tapi kalau nanti mereka tetap mau melakukan pembuatan bandar atau parit dan PT. AMA tidak berkeberatan dan membolehkan ya silahkan dilanjut, surat surat HGU jelas tapi ada dengan pimpinan,” ungkap Dinendra ( Tim )

Komentar

News Feed