oleh

Hasil Investigasi terbaru, Program PEN Mangrove di Beltim meninggalkan masalah yang serius

Penanaman bibit mangrove yaitu Program PEN Mangrove 2021 di wilayah Belitung Timur diduga bermasalah dari penanaman menggunakan propagul yang dibeli dengan harga tidak sesuai RAB dan diduga tidak semua lokasi di tanam bibit mangrove sehingga banyak terlihat ajir/pancang dalam keadaan kosong. LSM LINTAR akan kawal kasus ini dari Polres Beltim sampai ke Pengadilan.

Ketua LSM Lintar Belitung Ali Hasmara setelah melakukan investigasi, jumat 28/01/2022 kelokasi tiga KTH penanaman bibit mangrove di wilayah Beltim mengatakan,” ternyata banyak temuan kejanggalan yang perlu ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum, tentang penanaman Mangrove di wilayah Beltim, diantaranya, adalah KTH padang hijau desa padang luas penanaman 27 Hektar, KTH Mirang desa padang luas penanaman 23 Hektar, KTH pancur 1 desa padang luas penanaman 25 Hektar diduga dilaksanakan tidak sesuai Rab, malah sebagian besar ada pancang/ajir tapi tidak ada bibit mangerovenya, dan ada sebagian lagi bibitnya diduga propagul, akibat dari penanaman itu ditemukan fakta kegagalan penanaman karena diduga bibit yang ditanam bukan bibit yang disemai tetapi propagul muda yang diambil langsung dari lokasi mangrove, sementara itu didalam rantek program Pen Mangrove tidak diperbolehkan kecuali bibit yang diambil dari sekitarnya disemai dulu sampai menjadi bibit yang sudah tumbuh daun 2 sampai 4 helai baru ditanam di lokasi penanaman,” ungkap Ali

” Selain ketiga KTH diatas, beberapa KTH lainnya melakukan pembelian bibit/propagul diduga tidak sesuai dengan RAB karena seharusnya harga perbibitnya 2800 rupiah sesuai dalam RAB terpaksa membeli satu bibitnya dibawah 1500 rupiah, sehingga menimbulkan pertanyaan kemana aliran dana sisa pembelian bibit tersebut mengalir dan Ini menjadi rahasia yang belum terungkap, apakah ada keterlibatan oknum ketua kelompok, Oknum BP-DAS serta Aktor Intelektualnya yang mengetahui hal ini ?” tegas Ali

Ajir atau pancang yang tidak digunakan seharusnya digunakan

Sementara itu Ali menambahkan,” mengulas temuan infestigasi beberapa waktu lalu, penanaman salah sasaran oleh KTH HTR Setia Bakti Desa Jangkang Kecamatan Dendang Kabupaten Belitung Timur seluas 50 hektar, yang ternyata penanamannya dilakukan di wilayah desa Kembiri Kecamatan Membalong Kabupaten Belitung, sementara penanaman mangrovenya itu sendiri sudah dibatalkan dan dilakukan pencabutan sesuai dengan permintaan masyarakat kembiri Kecamatan Membalong (sesuai dengan kesepakatan dua KPH Belitung dan Belitung Timur, yang diakomodir oleh Kepala Dersa Kembiri),” ujar Ali

” Dari data yang kami dapat, Nama Kelompok itu adalah KTH HTR Setia Bakti diketuai AINAL dengan luas penanaman 50 Hektar (namun fakta dilapangan lokasi penanaman di desa kelompok tersebut tidak ada, justru mereka melakukan penanaman di wilayah laut Belitung di Desa Kembiri Kecamatan Membalong). Akibat kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan, bagaimana kelompok tersebut membuat laporan penyelesaian pekerjaan sedangkan pekerjaan sudah di batalkan artinya diduga ada laporan palsu karena tidak ada lokasi penanamannya, namun sudah melakukan pencairan dana 100 persen yang di indikasikan dana tersebut di bagi bagi oleh para oknum, termasuk aktor intelektualnya,” jelas Ali

” Berkaitan masalah ini sudah dalam proses hukum, maka kami LSM Lintar akan terus kawal proses ini untuk ditindak lanjut sampai permasalahan ini terang benderang di pengadilan,” ujar Ali

Ketika mencoba untuk mengkonfirmasi dengan pihak polres Beltim (setelah sholat jum’at, 28/01/22), wartawan tidak dapat menemui pejabat di Polres Beltim, karena saat itu di Polres Beltim masih ada acara zoom meeting (vidcon) intern mereka sehingga tidak dapat untuk dikonfirmasi secara jelas, namun berdasarkan informasi dari anggota serse Beltim bahwa proses kasus dugaan penyimpangan penanaman mangrove di wilayah Belitung Timur itu masih dalam proses penyelidikan, belum sampai ke tahap Penyidikan. ( Tim )

Komentar

News Feed