infolintar.com – Belitung – Distribusi gas subsidi LPG 3 kg di wilayah Belitung menjadi sorotan setelah muncul dugaan praktik pengurangan isi tabung atau yang kerap disebut “kencing gas”. Jika praktik tersebut benar terjadi secara sistematis, potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan bisa mencapai miliaran rupiah setiap tahun.
Skema Dugaan Mafia LPG di Belitung
SPPBE (Pengisian LPG)
▼
Pengisian Tabung 3 Kg
(Potensi manipulasi timbangan)
▼
Gudang SPPBE
(Potensi penyedotan gas)
▼
Transportasi Truk
18 Truk / Hari
560 Tabung / Truk
▼
Agen LPG
(Potensi penimbunan)
▼
Pangkalan LPG
(Potensi penjualan di atas HET)
▼
Pengepul / Pengoplos
▼
Gas dijual atau di oplos kembali
ke tabung 12 kg / industri
Akibatnya:
Konsumen menerima tabung yang lebih ringan.
Simulasi “Tabung Gratis” yang Didapat Mafia Berdasarkan asumsi distribusi:
18 truk per hari, 560 tabung per truk, total 10.080 tabung per hari.
Jika dikurangi 200 gram per tabung
Total gas yang terkumpul:
10.080 × 0,2 kg = 2.016 kg
Jika dikonversi menjadi tabung LPG 3 kg:
2.016 kg ÷ 3 kg=672 tabung LPG.
Artinya setiap hari mafia bisa mendapatkan:
672 tabung LPG 3 kg “gratis”.
Dalam Satu Bulan
672 tabung × 30 hari= 20.160 tabung
Dalam Satu Tahun
672 tabung × 365 hari= 245.280 tabung LPG
Jika dijual dengan harga Rp20.000 per tabung:
245.280 × Rp20.000= Rp4,9 miliar
Ini baru dari konversi tabung saja, belum dari penjualan LPG kiloan.
Fakta yang Biasanya Mengejutkan
Jika distribusi LPG di satu daerah seperti Belitung mencapai: lebih dari 10 ribu tabung per hari, maka pengurangan isi hanya: 200 gram. sudah bisa menghasilkan:
lebih dari 2 ton LPG setiap hari.
-Angka ini yang sering membuat praktik kencing gas disebut sebagai salah satu kejahatan ekonomi terbesar dalam distribusi energi subsidi.
Angka ini menunjukkan bahwa praktik pengurangan isi LPG bukan sekadar pelanggaran kecil, tetapi bisa menjadi kejahatan ekonomi yang merugikan masyarakat dan negara dalam jumlah besar.

