YOGYAKARTA – infolintar.com – Tiga dekade setelah wafatnya wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin atau yang akrab dikenal sebagai Udin, namanya tetap hidup dalam ingatan insan pers, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Memperingati 30 tahun kepergian Udin, Tim Adhoc Pengusulan Fuad Muhammad Syafruddin sebagai Pahlawan Nasional menggelar rangkaian kegiatan pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Aula PWI DIY, Jalan Gambiran 45, Yogyakarta.
Peringatan ini tidak sekadar menjadi ajang mengenang sosok Udin, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam mendorong pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional kepada pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Udin sendiri tercatat sebagai anggota PWI dengan nomor keanggotaan 13.00.3794.92.M.VI.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah peresmian nama Aula PWI DIY menjadi Aula Fuad Muhammad Syafruddin. Penamaan ini diharapkan menjadi simbol penghormatan sekaligus pengingat bagi generasi penerus tentang dedikasi dan perjuangan Udin dalam dunia jurnalistik.
Peresmian akan dilakukan oleh Ketua PWI DIY, Drs. Hudono, S.H., yang didahului dengan laporan Ketua Tim Adhoc Udin, Ki Bambang Widodo, terkait progres dan langkah strategis tim dalam proses pengusulan gelar pahlawan.
Acara juga akan diisi dengan sambutan dari Kepala Dinas Kominfo DIY, Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, S.IP., M.Si., serta Kepala Dinas Sosial DIY, Suyarno, S.Sos., M.A., yang turut mendukung upaya pengusulan tersebut.
Selain di lingkungan PWI DIY, bentuk penghormatan juga diwujudkan melalui pemasangan tetenger di makam Udin yang berada di Trirenggo, Bantul. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Tim Adhoc Udin yang digelar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) pada 23 Juni 2026.
Dalam rapat tersebut, tim merumuskan sejumlah langkah strategis, di antaranya pengusulan penamaan aula dan pemasangan tetenger di makam sebagai bagian dari penguatan nilai historis perjuangan Udin.
Bagi insan pers, upaya ini bukan sekadar mengabadikan nama, melainkan menjaga ingatan kolektif tentang keberanian, integritas, dan dedikasi seorang wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Tim Adhoc Udin juga mengundang Dewan Penasehat, Dewan Pakar, pengurus dan anggota PWI DIY, serta sejumlah pejabat dan organisasi kemasyarakatan yang terlibat dalam proses pengusulan Pahlawan Nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membawa nama Udin ke tingkat pengakuan yang lebih luas. Dari Yogyakarta, semangat perjuangan ini terus digelorakan agar pemerintah dapat mempertimbangkan Udin sebagai Pahlawan Nasional.
Tiga puluh tahun setelah kepergiannya, semangat dan perjuangan Udin kembali dihidupkan. Bukan hanya melalui seremoni, tetapi melalui ikhtiar nyata untuk memastikan namanya tetap hadir dalam sejarah pers Indonesia.
Bagi generasi masa kini dan mendatang, Udin diharapkan tidak hanya dikenang melalui nama yang terpatri di aula atau makam, tetapi juga sebagai simbol keberanian dan integritas seorang wartawan yang layak mendapatkan penghargaan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional.
30 Tahun Udin: PWI DIY Abadikan Nama, Dorong Jadi Pahlawan Nasional





